Sinarmalut.com, Morotai - Malam di kawasan Kantor Dinas Pariwisata Pulau Morotai kini tak lagi sunyi. Lampu-lampu jalan memantul di wajah-wajah warga yang datang silih berganti. Sebagian berolahraga ringan, sebagian lain sekadar menikmati suasana. Di tengah keramaian itu, aroma kopi hangat menyeruak dari sebuah lapak kaki lima sederhana. Di baliknya, berdiri Roger.
Sehari-hari, Roger dikenal sebagai wartawan di salah satu media lokal di Kabupaten Pulau Morotai. Namun, sejak gelaran Morotai Fun Run 2026 diumumkan, ia melihat sesuatu yang lebih dari sekadar agenda olahraga: peluang ekonomi.
Alih-alih hanya meliput, Roger memilih terlibat. “Setiap malam mulai ramai sejak event ini diumumkan,” ujarnya. “Saya pikir, kenapa tidak dimanfaatkan?”
Keputusan itu membawanya pada rutinitas baru. Selepas menjalankan tugas jurnalistik, ia membuka lapak kopi sederhana di depan Kantor Dinas Pariwisata. Tanpa konsep rumit, tanpa dekorasi berlebihan, hanya kopi hangat, gelas plastik, dan interaksi hangat dengan pelanggan.
Harga yang ia pasang pun bersahabat yaitu Rp 10 ribu per gelas. Namun, dari kesederhanaan itu, perputaran ekonomi kecil mulai terasa nyata. Dalam beberapa jam saja, Roger bisa menjual 20 hingga 30 gelas kopi per malam. Artinya, omzet yang ia kantongi bisa menyentuh Rp 200 ribu lebih, angka yang signifikan untuk usaha sampingan berskala mikro.
Fenomena ini bukan sekadar cerita individu. Ia mencerminkan efek berantai dari sebuah event terhadap ekonomi lokal.
Gelaran seperti Morotai Fun Run bukan hanya soal garis start dan finish. Ia menciptakan ruang hidup baru, menggerakkan aktivitas warga, membuka peluang usaha, dan memperluas peredaran uang di tingkat akar rumput.
Di sekitar area yang sama, mulai terlihat geliat serupa: pedagang makanan ringan, penjual minuman, hingga jasa parkir dadakan. Semua bergerak dalam ritme yang sama menangkap momentum.
Bagi Roger, pengalaman ini juga mengubah cara pandangnya sebagai jurnalis. Ia tak lagi sekadar mengamati dampak ekonomi dari kejauhan, tetapi merasakannya langsung.
“Event seperti ini sangat membantu masyarakat,” katanya. “Tinggal bagaimana kita mau melihat peluang atau tidak.”
Pernyataan itu sederhana, tetapi mencerminkan realitas yang lebih luas: ekonomi lokal sering kali tumbuh bukan hanya dari kebijakan besar, melainkan dari inisiatif kecil yang responsif terhadap momentum.
Di Morotai, sebuah event lari berhasil menggerakkan lebih dari sekadar kaki para peserta. Ia menggerakkan dapur-dapur kecil, membuka ruang usaha sementara, dan memberi nafas tambahan bagi ekonomi warga.
Roger hanyalah satu dari banyak cerita yang mungkin tak tercatat dalam laporan resmi. Namun, justru dari lapak kopi kecil di pinggir jalan itulah, kita bisa melihat bagaimana ekonomi bekerja dalam bentuk paling nyata, dekat, hangat, dan manusiawi.
Dan mungkin, seperti secangkir kopi yang ia sajikan setiap malam, peluang itu selalu ada, tinggal siapa yang mau menyeduhnya. *
