Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan Beranda

SALUMA, Suara Anak Muda Tidore Menjaga Warisan Budaya di Tengah Arus Modernisasi

Saturday, 11 April 2026 | 20:35 WIB Last Updated 2026-04-11T11:35:09Z


Sinarmalut.com,
Tidore - Malam di ruang terbuka Kota Tidore Kepulauan (Tikep) terasa berbeda, Jumat (10/4/2026). Denting alat musik tradisional berpadu dengan semangat anak muda yang ingin menjaga akar budayanya. Dari panggung sederhana itu, sebuah pesan besar mengalun: tradisi tidak boleh hilang di tengah derasnya modernisasi.



Peluncuran Sound of Spices “SALUMA” menjadi lebih dari sekadar pertunjukan musik. Ia menjelma ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan, tempat generasi muda Tidore merawat identitasnya melalui karya kreatif.



Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Laiman, yang hadir dalam acara tersebut, menegaskan bahwa kemajuan zaman justru membuka semakin banyak peluang bagi anak muda untuk berinovasi. Namun, menurutnya, inovasi itu tidak boleh tercerabut dari akar budaya.



“Anak muda Tidore tidak akan berhenti berkreasi. Mereka akan terus menampilkan jati diri, baik lewat musik, kuliner, tarian, kerajinan hingga konten kreatif lainnya,” ujarnya.



Bagi Ahmad, kehadiran SALUMA adalah langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian budaya. Ia melihat, di tengah perubahan zaman, identitas budaya menjadi fondasi yang menjaga arah pembangunan daerah.



Harapan serupa juga disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Syamsuddin Abd Kadir, yang mewakili gubernur. Ia menggambarkan Maluku Utara sebagai tanah yang kaya akan sejarah dan tradisi, mulai dari jejak kerajaan hingga warisan musik dan tarian yang hidup dari generasi ke generasi.



Di mata Syamsuddin, SALUMA bukan sekadar karya seni, melainkan simbol harmoni antara warisan masa lalu dan semangat masa depan.



“Kita tidak hanya mendengarkan musik, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa budaya adalah napas kehidupan, pengikat persaudaraan, dan sumber inspirasi,” katanya.



Dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bukan sekadar tanggung jawab daerah, melainkan bagian dari komitmen nasional. Bantuan yang diberikan tidak hanya bernilai materi, tetapi juga menjadi energi bagi para pelaku seni untuk terus berkarya.



Di tengah panggung, kolaborasi anak muda melalui Sanggar DD Acoustic memperlihatkan bagaimana tradisi bisa dikemas dengan sentuhan baru tanpa kehilangan makna. Musik yang mereka hadirkan terasa akrab, sekaligus segar, seolah mengajak generasi muda untuk kembali mencintai budayanya sendiri.



Peluncuran SALUMA ditandai dengan pemukulan tifa oleh Syamsuddin Abd Kadir bersama Ahmad Laiman. Bunyi tifa yang menggema menjadi penanda dimulainya perjalanan baru: merawat budaya dengan cara yang lebih dekat dengan generasi hari ini.



Lebih dari sekadar acara seremonial, malam itu menjadi pengingat bahwa kebudayaan akan tetap hidup selama ada generasi yang mau merawatnya. Dari Tidore, suara itu kini mulai bergema, mencari jalannya untuk dikenal lebih luas, hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. *

  • SALUMA, Suara Anak Muda Tidore Menjaga Warisan Budaya di Tengah Arus Modernisasi
  • 0

Terkini