Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan Beranda

Saat Laut Jadi Panggung Sejarah: Lufu Kie, Ritual Keliling Pulau dalam HUT Tidore ke-918

Thursday, 9 April 2026 | 17:40 WIB Last Updated 2026-04-09T08:40:17Z


Sinarmalut.com,
Tidore - Di pagi yang hangat di pesisir Tidore, deru mesin perahu dan lantunan doa menyatu dalam satu irama yang sama. Laut bukan sekadar hamparan air, melainkan saksi hidup perjalanan sejarah panjang sebuah negeri kepulauan.



Pemerintah Kota Tidore Kepulauan (Tikep) bersama Kesultanan Tidore kembali menghidupkan ritual Lufu Kie, Kamis (9/4/2026), sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi Tidore (HJT) ke-918. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi penegasan identitas maritim yang telah berakar sejak ratusan tahun silam.



Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Ahmad Laiman, didampingi Ketua I Tim Penggerak PKK Ny. Sumiyati Ahmad Laiman, serta Sekretaris Daerah Ismail Dukomalamo, turut larut dalam prosesi yang dimulai dari Pelabuhan Kesultanan. Mereka berjalan bersama Jou Sultan dan Jou Boki menuju dermaga, menyatu dalam langkah yang sarat makna historis.



Ritual Lufu Kie, yang secara harfiah berarti mengelilingi gunung atau pulau ditandai dengan pelayaran armada tradisional mengitari Pulau Tidore. Di barisan terdepan, Kagunga atau perahu kesultanan melaju dengan khidmat, dikawal 12 juanga atau kora-kora yang masing-masing mewakili struktur adat Kesultanan Tidore.



Formasi itu bukan tanpa arti. Ia merepresentasikan kekuatan, solidaritas, dan strategi maritim yang dahulu digunakan Sultan Saifuddin, yang dikenal sebagai “Jou Kota”, untuk menunjukkan kewibawaan sekaligus menggetarkan armada kolonial Belanda.



Di sepanjang perjalanan, armada berhenti di sejumlah titik. Para imam dan syara bobato memanjatkan doa, memohon keselamatan bagi negeri dan masyarakatnya. Pada tahun ini, rombongan juga sempat singgah di perairan keramat Hiri, Ternate, dan menambah nuansa spiritual dalam perjalanan yang sarat simbolisme tersebut.



Di darat, masyarakat menyambut dengan antusias. Dari satu kelurahan ke kelurahan lain, warga berdiri di tepian, melambaikan tangan, mengabadikan momen, dan merasakan kembali denyut tradisi yang diwariskan leluhur mereka.



Tak hanya perahu adat, iring-iringan juga diramaikan oleh speedboat yang membawa simpatisan dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) dan para camat. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa tradisi ini bukan milik masa lalu semata, melainkan bagian dari kehidupan modern yang terus dirawat.



Lufu Kie hari ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia menghadirkan kembali ingatan kolektif tentang kejayaan maritim Tidore, sekaligus menguatkan rasa kebersamaan masyarakatnya.



Di tengah arus zaman yang terus bergerak cepat, ritual ini menjadi pengingat sederhana: bahwa identitas sebuah daerah tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuannya menjaga akar sejarah dan budaya. 


Dan di laut Tidore pagi itu, sejarah tidak hanya dikenang, ia kembali berlayar. *

  • Saat Laut Jadi Panggung Sejarah: Lufu Kie, Ritual Keliling Pulau dalam HUT Tidore ke-918
  • 0

Terkini