Sinarmalut.com, Ternate - Kontestasi menuju kursi Ketua DPD Partai Golkar Maluku Utara mulai menunjukkan eskalasi. Salah satu kandidat kuat, Anjas Taher, resmi mengambil formulir pendaftaran di sekretariat DPD Golkar Maluku Utara, menandai keseriusannya dalam perebutan pucuk pimpinan partai.
Langkah awal ini bukan sekadar formalitas administratif. Di baliknya, tersirat manuver politik yang memperlihatkan peta kekuatan mulai terbentuk menjelang Musyawarah Daerah (Musda) yang dijadwalkan pada 12 April 2026.
Pengambilan formulir dilakukan melalui liaison officer (LO) Anjas, Nyong Barakati, yang disambut langsung oleh panitia penjaringan. Kehadiran perwakilan tersebut menjadi sinyal bahwa Anjas tidak sekadar ikut meramaikan bursa, tetapi siap bertarung dalam kompetisi yang diprediksi berlangsung ketat.
Nyong menegaskan, pencalonan Anjas Taher didorong oleh keinginan memperkuat kembali fondasi Partai Golkar di Maluku Utara. Ia menyebut, agenda utama yang diusung adalah konsolidasi internal hingga ke tingkat akar rumput.
“Ini bukan sekadar ambisi, tetapi upaya membangun kembali soliditas partai. Golkar memiliki sejarah panjang dan Bang Anjas ingin mengembalikan kejayaan itu,” ujar Nyong.
Di tengah dinamika tersebut, klaim dukungan menjadi variabel kunci. Nyong menyatakan, Anjas telah mengantongi sembilan rekomendasi dari DPD kabupaten/kota, angka yang melampaui syarat minimal pencalonan.
Klaim ini, jika terverifikasi, berpotensi mengubah peta persaingan secara signifikan. Dukungan struktural dari daerah kerap menjadi faktor penentu dalam Musda, mengingat mekanisme pemilihan yang berbasis suara pemilik hak pilih internal partai.
Sementara itu, panitia penjaringan, Muhammad Abusama, menegaskan bahwa proses pendaftaran masih akan berlangsung hingga 11 April pukul 00.00 WIT. Setelah itu, tahapan akan berlanjut ke verifikasi berkas sebelum penetapan calon resmi.
“Semua kandidat memiliki kesempatan yang sama selama memenuhi syarat. Proses akan berjalan sesuai mekanisme organisasi,” kata Abusama.
Musda Golkar Maluku Utara kali ini dipandang sebagai momentum strategis. Tidak hanya menentukan figur ketua, tetapi juga arah politik partai menjelang agenda elektoral berikutnya.
Di tengah harapan kader akan kebangkitan Golkar di daerah, sosok pemimpin baru dituntut tidak hanya memiliki basis dukungan, tetapi juga kapasitas mengelola konflik internal dan memperluas pengaruh politik.
Dengan waktu yang semakin sempit, dinamika menjelang Musda diperkirakan akan terus bergerak. Konsolidasi, negosiasi, hingga kemungkinan munculnya poros baru masih terbuka menjadikan pertarungan di tubuh Golkar Maluku Utara kian menarik untuk dicermati. *
