Sinarmalut.com, Morotai - Suasana hangat dan penuh keakraban terasa di Desa Darame, Kecamatan Morotai Selatan, Sabtu (28/3/2026). Di tengah agenda reses masa sidang I, anggota DPRD Kabupaten Pulau Morotai dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Moh Akbar Mangoda, hadir tak hanya untuk mendengar, tetapi juga berbagi.
Reses tersebut menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai aspirasi dan kebutuhan mendasar yang selama ini dirasakan. Bagi Akbar, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas kelembagaan, melainkan bentuk tanggung jawab moral sebagai wakil rakyat.
“Reses adalah kewajiban setiap anggota DPRD pada setiap penutupan masa sidang, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Namun lebih dari itu, ini adalah momen untuk benar-benar mendengar suara masyarakat,” ujar Akbar di hadapan warga.
Ia pun mengajak masyarakat Desa Darame untuk aktif dan terbuka dalam menyampaikan persoalan yang dihadapi, mulai dari kebutuhan infrastruktur hingga kesejahteraan ekonomi. Menurutnya, setiap aspirasi yang masuk akan menjadi bahan penting dalam laporan resmi hasil reses yang nantinya dibahas dalam sidang paripurna.
Dalam sesi dialog, warga menyampaikan sejumlah kebutuhan prioritas. Di antaranya pembangunan jalan lingkungan berupa rabat beton di RT 01 dan RT 04 sepanjang kurang lebih tiga kilometer, penyediaan bak sampah dan lampu jalan, hingga dukungan sektor pertanian berupa pupuk, bibit, serta pendampingan bagi petani semangka dan pisang.
Tak hanya itu, warga juga menyinggung soal gaji aparatur desa yang belum terbayarkan pada Desember 2025, yang diharapkan dapat segera menjadi perhatian pemerintah daerah.
Aspirasi-aspirasi tersebut disampaikan dengan harapan besar agar dapat diakomodasi dalam postur APBD mendatang, sebagai bentuk keberpihakan terhadap kebutuhan riil masyarakat desa.
Usai sesi dialog, suasana berubah menjadi lebih haru. Akbar Mangoda melanjutkan kegiatan dengan membagikan bingkisan kepada para janda dan lansia di Desa Darame. Satu per satu warga menerima bantuan dengan wajah penuh syukur.
Bagi sebagian penerima, perhatian seperti ini menjadi bukti bahwa mereka tidak dilupakan. Di tengah keterbatasan, sentuhan kepedulian justru terasa paling berarti.
Reses di Desa Darame pun menjadi potret bahwa politik tak selalu tentang angka dan kebijakan, tetapi juga tentang kehadiran, empati, dan upaya nyata menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung. *
