Sinarmalut.com, Tidore - Ajang balap motor Wali Kota Cup Race I di Kota Tidore Kepulauan dipastikan menggunakan regulasi terbaru tahun 2026. Keputusan ini diambil berdasarkan kesepakatan bersama antara panitia dan seluruh peserta dalam pra meeting, sebagai upaya menjaga kualitas serta profesionalitas kompetisi.
Ketua Bidang Olahraga Sepeda Motor IMI Provinsi Maluku Utara, Shaldi Kharie, menegaskan bahwa penerapan regulasi terbaru merupakan hasil musyawarah seluruh pihak yang terlibat.
“Dalam pra meeting sudah disepakati bahwa kita menggunakan regulasi terbaru,” ujar Shaldi, Minggu (26/4/2026).
Ia menjelaskan, regulasi tersebut mencakup berbagai aspek teknis, mulai dari spesifikasi mesin hingga penggunaan bahan bakar minyak (BBM), yang berpengaruh langsung terhadap performa kendaraan di lintasan.
Menurut dia, perubahan aturan memang menjadi hal rutin dalam dunia balap, meski tidak selalu terjadi di semua kelas. “Perubahan regulasi memang terjadi setiap tahun, tapi tidak semua kelas. Kali ini hanya satu kelas yang mengalami perubahan signifikan dan aturannya baru diterbitkan sekitar satu bulan terakhir,” jelasnya.
Dalam Wali Kota Cup Race I, panitia akan mempertandingkan sekitar lima kelas balapan dengan ketentuan teknis yang berbeda, termasuk pengaturan penggunaan BBM. Shaldi menegaskan bahwa faktor bahan bakar menjadi salah satu elemen krusial dalam kompetisi.
“BBM sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan ketahanan motor. Ada yang dibatasi, ada juga yang dibebaskan,” katanya.
Panitia juga menyiapkan sanksi tegas bagi peserta yang melanggar aturan. Salah satunya adalah diskualifikasi bagi pembalap yang mengganti komponen motor setelah finis sebelum menjalani pemeriksaan teknis atau scrutineering.
Sementara itu, persiapan sirkuit menjelang pelaksanaan event dilaporkan telah mencapai 85 persen. Ketua IMI Kota Tidore Kepulauan, Abdul Gafur Maradjabessy, menyebutkan bahwa pekerjaan yang tersisa hanya berupa penyempurnaan fasilitas pendukung.
“Persiapan sirkuit sudah 85 persen. Tinggal penambahan pagar dan beberapa perangkat pendukung,” ujarnya.
Panitia juga terus berkoordinasi dengan tim peserta untuk memastikan seluruh kebutuhan teknis, termasuk pasokan BBM, dapat terpenuhi dengan baik.
“Panitia berperan sebagai fasilitator agar semua tim bisa mengikuti event dengan baik,” kata Abdul Gafur.
Dari sisi peserta, sejumlah tim mengaku telah siap mengikuti kompetisi meski sempat menghadapi kendala akibat perubahan regulasi yang relatif mendadak.
Perwakilan tim Babang Raya, Oriza, dan Rakazat, Moyo, mengatakan bahwa penyesuaian spesifikasi motor membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan secara instan.
“Kami tetap mengikuti regulasi yang sudah ditetapkan panitia dan IMI. Memang ada kendala karena jadwal sempat berubah, sehingga penyesuaian spek motor tidak mudah,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam dunia balap, proses pengerjaan mesin membutuhkan ketelitian dan waktu yang cukup. “Kerja motor itu butuh proses, tidak bisa cepat. Tapi kalau regulasi sudah ditetapkan, kami tetap ikut,” katanya.
Hal serupa disampaikan perwakilan Antam Batik Racing Team, Jek Dano. Ia mengakui adanya sedikit tumpang tindih akibat regulasi baru yang diterbitkan dalam waktu dekat dengan pelaksanaan event.
“Memang ada sedikit tumpang tindih karena aturan ini baru muncul sekitar satu bulan terakhir, tapi kami tetap mengikuti regulasi yang ada,” ujarnya.
Meski demikian, ia memastikan timnya siap tampil maksimal. “Kami sudah siap 100 persen untuk bertarung,” tegasnya.
Wali Kota Cup Race I tidak hanya menjadi ajang adu kecepatan di lintasan, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Event ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dan ditargetkan mampu menarik 6.000 hingga 7.000 penonton selama tiga hari pelaksanaan.
Selain itu, keikutsertaan tim dari luar daerah seperti Ambon dan Sorong dinilai akan turut mendorong sektor pariwisata serta meningkatkan perputaran ekonomi lokal.
Dengan persiapan yang hampir rampung dan antusiasme peserta yang tinggi, Wali Kota Cup Race I diharapkan menjadi salah satu event balap bergengsi di kawasan timur Indonesia. *
