
Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua bersama unsur Forkopimda dan para pemuka agama, kompak foto bersama di acara Halal Bihalal yang diadakan di Desa Wayabula, Rabu (8/4/2026).
Sinarmalut.com, Morotai - Suasana hangat terasa di pelataran kegiatan Halalbihalal di Wayabula, Rabu (8/4/2026). Warga dari beragam latar belakang baik Muslim dan Nasrani duduk berdampingan, mencairkan sekat dalam balutan silaturahmi.
Di tengah kebersamaan itu, Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua menyampaikan pesan yang tak sekadar seremonial. Ia berbicara tentang pengalaman, tentang ingatan kolektif, dan tentang kewaspadaan.
“Kita yang sudah melewati usia 40 tahun pernah merasakan masa sulit. Jangan sampai itu terulang hanya karena hal-hal kecil,” kata Rusli, dengan nada yang lebih menyerupai nasihat tetua ketimbang pidato seorang pejabat.
Ia menyoroti derasnya arus informasi yang kerap tak tersaring. Menurut dia, kabar yang belum tentu benar dapat menjadi pemicu retak jika diterima tanpa sikap kritis. Karena itu, ia meminta para orang tua mengambil peran lebih besar dalam membimbing generasi muda agar tidak mudah terprovokasi.
Ajakan itu mengemuka di tengah kekhawatiran akan potensi gesekan sosial yang kerap dipicu isu sepele. Rusli mengingatkan, menjaga ketenangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat.
“Morotai harus tetap damai. Jangan ikut menyebarkan hal-hal yang belum jelas kebenarannya,” ujarnya.
Kehadiran Sekretaris Daerah Muhammad Umar Ali bersama jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat lintas iman menegaskan pesan yang sama: persatuan adalah fondasi.
Camat Morotai Selatan Barat, M. Bahri Noho, menyebut kebersamaan dalam kegiatan ini sebagai cermin harmoni sosial yang masih terjaga. Ia melihat partisipasi warga lintas agama sebagai tanda bahwa ruang dialog tetap terbuka. “Semua berkumpul, saling menyapa, tanpa melihat perbedaan,” ujarnya.
Pesan serupa disampaikan oleh Ibrahim Ahmad dalam tausiyahnya. Ia menekankan bahwa Halalbihalal bukan sekadar tradisi, melainkan ruang untuk merawat hubungan antarmanusia dengan saling memaafkan dan menjaga kepercayaan.
Menjelang akhir acara, warga saling berjabat tangan. Gestur sederhana itu menjadi penanda bahwa di tengah perbedaan, ada kesadaran yang sama untuk tetap bersama.
Di Morotai Selatan Barat, persatuan tampaknya bukan sekadar slogan, melainkan praktik sehari-hari yang terus dijaga pelan, tapi pasti. *