Sinarmalut.com, Tidore - Permainan domino yang selama ini identik dengan hiburan masyarakat kini dimaknai lebih luas sebagai ruang membangun kebersamaan, memperkuat silaturahmi, sekaligus menumbuhkan nilai sportivitas. Semangat itulah yang mewarnai pembukaan Turnamen Domino Lurah Cup I Tahun 2026 di Kelurahan Mafututu, Kecamatan Tidore Timur, Sabtu (4/7/2026) malam.
Kegiatan yang digagas melalui kolaborasi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Khairun (Unkhair), Pemerintah Kelurahan Mafututu, dan pemuda yang tergabung dalam Generasi Mafututu (GAMUTU) menjadi contoh bagaimana pengabdian masyarakat dapat diwujudkan melalui pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan warga.
Mengusung tema "Adu Strategi, Raih Prestasi, Jalin Silaturahmi Melalui Turnamen Domino Lurah Cup", kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan kompetisi, tetapi juga membuka ruang interaksi antargenerasi. Mahasiswa, aparat pemerintah, pemuda, hingga masyarakat duduk bersama dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban.
Ketua Panitia, Nukila Ipa, mengatakan penyelenggaraan perdana Turnamen Domino Lurah Cup merupakan hasil kerja bersama berbagai unsur masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini lahir dari semangat gotong royong dan keinginan menghadirkan aktivitas positif yang mampu mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Ia berharap turnamen tersebut tidak berhenti pada penyelenggaraan pertama, tetapi dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang terus berlanjut sehingga menjadi tradisi baru bagi masyarakat Kelurahan Mafututu.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan seperti ini juga menjadi bagian dari implementasi pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa tidak hanya diwujudkan melalui program pendidikan atau penyuluhan, tetapi juga melalui upaya membangun ruang kebersamaan yang mendorong partisipasi aktif masyarakat.
Lurah Mafututu, Muhdar Thalib, mengingatkan seluruh peserta agar menjadikan turnamen sebagai ajang memperkuat persaudaraan, bukan semata-mata mengejar kemenangan. Menurutnya, nilai sportivitas harus menjadi fondasi utama dalam setiap pertandingan sehingga kegiatan mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat.
"Menang maupun kalah adalah bagian dari kompetisi. Yang jauh lebih penting adalah menjaga sikap saling menghormati, menjunjung sportivitas, dan mempererat hubungan kekeluargaan antar sesama warga," ujarnya.
Pembukaan turnamen dilakukan oleh Camat Tidore Timur, Syamsul Failisa. Ia menilai kolaborasi antara mahasiswa, pemuda, dan pemerintah kelurahan menjadi contoh nyata bahwa pembangunan sosial tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran, melainkan pada kekuatan gotong royong dan kepedulian masyarakat.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, menurut Syamsul, kreativitas masyarakat dalam menghadirkan kegiatan yang memperkuat solidaritas menjadi modal sosial yang patut dipertahankan. Pemuda diharapkan terus mengambil peran sebagai motor penggerak berbagai aktivitas yang memberi manfaat bagi lingkungan.
Ia juga mendorong agar Turnamen Domino Lurah Cup berkembang menjadi agenda rutin setiap tahun. Selain mempererat hubungan sosial, turnamen tersebut dinilai berpotensi menjadi wadah pembinaan atlet domino di tingkat kelurahan melalui pembentukan kepengurusan GARDU PORDI sebagai organisasi pembinaan olahraga domino.
Dengan adanya pembinaan yang berkelanjutan, Mafututu diharapkan mampu melahirkan pemain-pemain domino yang dapat berprestasi hingga tingkat Kota Tidore Kepulauan.
Lebih dari sekadar permainan, domino dalam konteks masyarakat Maluku Utara telah lama menjadi bagian dari budaya berkumpul, berdialog, dan mempererat hubungan sosial. Ketika dikelola secara positif melalui sebuah turnamen yang menjunjung sportivitas, permainan tradisional tersebut mampu menjadi media pendidikan karakter sekaligus memperkuat modal sosial masyarakat.
Turnamen Domino Lurah Cup I pun menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas pemuda mampu melahirkan kegiatan sederhana yang berdampak besar. Dari meja-meja domino, tumbuh semangat gotong royong, saling menghargai, dan harapan agar tradisi kebersamaan terus hidup di tengah masyarakat Mafututu. *
