Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan Beranda

Nobar Film “Pesta Babi” di Morotai, BEM Unipas Soroti Dugaan Perampasan Lahan oleh TNI-AU

Tuesday, 19 May 2026 | 13:07 WIB Last Updated 2026-05-19T04:07:13Z


Sinarmalut.com,
Morotai – Lampu Gedung Oikumene atau MCC Pulau Morotai dibuat redup, Senin malam, 18 Mei 2026. Di dalam ruangan, ratusan mata tertuju pada layar yang memutar film dokumenter Pesta Babi. Film itu bukan sekadar tontonan bagi mahasiswa dan warga yang hadir. Ia menjadi pemantik diskusi tentang konflik agraria, militerisme, dan dugaan perampasan tanah adat.


Pemutaran film digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Pasifik (Unipas) Morotai bersama Grup Aksi Human Rights Ternate. Setelah film selesai diputar, forum diskusi berlangsung panas. Sejumlah peserta menyinggung persoalan tanah yang terjadi di Papua hingga kondisi serupa yang disebut mulai dirasakan masyarakat Pulau Morotai.


Presiden BEM Unipas Morotai, Rifaldi Madjid, mengatakan film dokumenter itu dipilih karena memuat persoalan kemanusiaan yang menurutnya masih terus terjadi di Papua. Ia menyebut konflik agraria yang diangkat dalam film memiliki keterkaitan dengan situasi di Morotai.


“Problem di Papua seharusnya mendapat solidaritas masyarakat, khususnya di Morotai. Karena lewat film ini kita bisa melihat bagaimana dugaan perampasan tanah adat terjadi,” kata Rifaldi usai kegiatan.


Menurut Rifaldi, keberadaan militer di Morotai juga perlu dikritisi, terutama berkaitan dengan sengketa lahan warga yang diklaim sebagai aset TNI-AU. Ia menyinggung sejarah Morotai sebagai wilayah strategis militer sejak operasi pembebasan Irian Barat.


“Konfliknya sudah selesai, tapi faktanya ada lahan warga yang sampai hari ini diklaim oleh TNI-AU,” ujarnya.


Ia menilai narasi pembangunan dan keamanan kerap menjadi alasan untuk mengambil alih ruang hidup masyarakat. Karena itu, kata dia, mahasiswa perlu membangun kesadaran publik agar masyarakat lebih kritis terhadap persoalan agraria.


“Sering kali ada bahasa-bahasa kekuasaan bahwa ini demi keamanan, tapi dibalik itu masyarakat kehilangan tanah,” kata Rifaldi.


Diskusi film itu menghadirkan sejumlah akademisi dan aktivis sebagai narasumber. Forum membahas konflik tanah adat di Papua, militerisasi wilayah, hingga isu Morotai yang disebut-sebut akan dijadikan pangkalan militer internasional.


Bagi peserta diskusi, film Pesta Babi bukan hanya cerita tentang Papua. Ia dianggap cermin bagi daerah-daerah lain yang mulai menghadapi persoalan serupa: tanah yang diperebutkan atas nama negara, keamanan, dan investasi. *

  • Nobar Film “Pesta Babi” di Morotai, BEM Unipas Soroti Dugaan Perampasan Lahan oleh TNI-AU
  • 0

Terkini