Sinarmalut.com, Tidore - Bantuan meteran listrik untuk warga di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menuai keluhan. Sebanyak 11 kepala keluarga penerima bantuan mengaku hanya mendapatkan instalasi dasar tanpa meteran listrik yang dijanjikan.
Rafles, warga Desa Waringin, mengatakan bantuan itu mulai disalurkan pada Desember 2025. Saat itu, petugas datang dengan membawa peralatan dan menyebut akan memasang meteran listrik di rumah warga.
“Yang dipasang hanya kabel sekitar tiga meter, dua titik lampu, dan MCB. Tapi meteran listriknya tidak dipasang,” kata Rafles, Kamis (2/4/2026).
Menurut dia, petugas sempat menjanjikan pemasangan meteran akan dilakukan kemudian. Namun hingga April 2026, realisasi itu tak kunjung terjadi.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain di desa yang sama. Tiga penerima bantuan di Desa Waringin disebut mengalami nasib identik: instalasi terpasang, tetapi meteran listrik tak pernah muncul.
Masalah ini tidak hanya terjadi di satu desa. Di Desa Lifao, Kecamatan Morotai Timur, sedikitnya enam keluarga penerima bantuan juga belum mendapatkan pemasangan meteran listrik. Kondisi serupa ditemukan di Desa Lomadoro, Kecamatan Pulau Rao, serta Desa Falilah, dengan masing-masing satu hingga dua rumah yang belum terpasang meterannya.
Kepala Desa Waringin, Marjan Taha, membenarkan adanya kegiatan pemasangan oleh petugas pada akhir 2025. Namun, menurut dia, pekerjaan itu tidak tuntas. “Yang dipasang hanya instalasi kabel. Meterannya tidak ada. Kami sudah komunikasi dengan pihak yang datang, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujarnya.
Hal senada disampaikan para kepala desa di Falilah, Lifao, dan Lomadoro. Mereka mengaku tidak memperoleh penjelasan jelas mengenai asal program bantuan tersebut, termasuk instansi yang bertanggung jawab.
Minimnya informasi ini menambah ketidakpastian di tingkat warga. Bantuan yang semestinya menghadirkan akses listrik justru berhenti pada tahap instalasi, tanpa fungsi utama sebagai sumber energi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PLN yang melakukan pemasangan belum memberikan tanggapan. Kepala PLN Daruba yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp juga belum merespons.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah program bantuan tersebut sekadar proyek setengah jalan, atau ada persoalan lebih serius dalam pelaksanaannya. Bagi warga, yang tersisa kini hanya kabel, lampu, dan janji yang belum ditepati. *
